masukkan script iklan disini
Bogor.kompasnusa.com//SMP Negeri 2 Kemang terus berinovasi dalam mengintegrasikan keanekaragaman kegiatan sekolah dengan edukasi lingkungan serta kemandirian pangan.
Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah H. Ismail Latif, sekolah ini meluncurkan program budidaya ayam petelur yang tidak hanya berfokus pada produksi pangan, tetapi juga pemanfaatan limbah menjadi pupuk organik pendukung Sekolah Adiwiyata Mandiri.
Rabu 26 Agustus 2026.
Dalam tahap awal, pihak sekolah memelihara sebanyak 48 ekor ayam petelur.
Investasi awal yang dikeluarkan mencakup biaya bibit/ayam sebesar Rp125.000 per ekor, pembuatan kandang sekitar Rp3.000.000, serta pakan merek POPAN ukuran 50 kg seharga Rp380.000 per karung untuk kebutuhan dua minggu.
"Setiap hari kita bisa menghasilkan sekitar 48 butir telur sesuai jumlah ayam yang ada, di mana produktivitas ayam petelur ini dapat berlangsung hingga dua tahun.
Hasil telurnya dipasarkan ke para guru dan staf internal untuk kebutuhan sehari-hari maupun acara khusus," ujar H. Ismail Latif.
Selain telur, keberadaan peternakan ini memberikan dampak ekologis melalui pengolahan kotoran ayam menjadi pupuk kandang.
Kotoran ayam difermentasi selama dua minggu menggunakan cairan EM4 hingga terurai sempurna.
Setelah matang, pupuk organik tersebut dikemas seberat 5 kg per paket dan dijual kepada para penanam pohon serta komunitas penggiat lingkungan.
Sebelum merintis program ini, pihak sekolah telah berkonsultasi langsung dengan para ahli peternakan di wilayah Ciseeng dan Kalisuren untuk memastikan tata kelola peternakan berjalan dengan baik.
Rencana Pengembangan dan Pemanfaatan Sisa Makanan
Ke depan, SMPN 2 Kemang berencana memperluas kapasitas kandang dengan target populasi mencapai 100 ekor ayam.
Tidak hanya itu, sekolah juga mewacanakan budidaya bebek Peking. Rencana ini digagas sebagai solusi atas sisa Makan Bergizi Gratis (MBG) dari para siswa agar tidak terbuang sia-sia, melainkan dimanfaatkan sebagai pakan bernilai ekonomis yang kelak dagingnya dapat dipasarkan.
"Siswa datang ke sekolah bukan hanya untuk belajar secara textbook, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung (learning by doing).
Melalui praktik ini, kita berharap para siswa dan guru bisa mengimplementasikannya di rumah masing-masing," tambah Ismail.
Seluruh hasil keuntungan dari pengelolaan usaha mandiri ini dialokasikan untuk kesejahteraan internal, yakni dibagikan kepada guru dan staf berupa Tunjangan Hari Raya (THR) pada bulan Ramadan.
Program ini berjalan beriringan dengan edukasi penanaman pohon dan pelestarian lingkungan hidup demi meraih predikat tertinggi sebagai sekolah Adiwiyata Mandiri. (Team)
